Kamis, 16 Juni 2011

unsur-unsur golongan VI B


GOLONGAN VI B

Kromium (Cr)
©    Karakteristik Kromium
Kromium adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cr dan nomor atom 24. Kromium trivalen (Cr(III), atau Cr3+) diperlukan dalam jumlah kecil dalam metabolisme gula pada manusia. Kekurangan kromium trivalen dapat menyebabkan penyakit yang disebut penyakit kekurangan kromium (chromium deficiency). Tingkat bilangan oksidasi kromium yang sering dijumpai adalah III dan VI. Cr(III) dalam larutan asam berupa ion Cr(H2O)63+, sedangkan dalam larutan yang basa berupa ion Cr{(OH)5(H2O)}2- dan CR(OH)63- Cr(VI) dalam larutan asam (pH lebih kecil dari 6) berupa ion HCrO4- dan Cr2OH42- yang berwarna jingga, sedangkan dalam larutan basa berupa ion CrO42- uang berwarna kuning. Pada pH yang rendah (sangat asam) hanya ion Cr2O72- yang ada di dalam larutan. Kromium yang telah ditemukan di alam kemudian masuk ke lingkungan melalui limbah industri dari lumpur elektroplating seperti limbah penyamakan dan pabrik inhibitor korosi (Krisbiyanyoro, 2008).
Kromium adalah 21 paling banyak unsur dalam kerak bumi dengan konsentrasi rata-rata 100 ppm. Senyawa Kromium terdapat di dalam lingkungan, karena erosi dari batuan yang mengandung kromium dan dapat didistribusikan oleh letusan gunung berapi. Rentang konsentrasi dalam tanah adalah antara 1 dan 3000 mg / kg, dalam air laut 5-800 μg / liter, dan di sungai dan danau 26 μg / liter dengan 5,2 mg / liter. Hubungan antara Cr (III) dan Cr (VI) sangat tergantung pada pH dan oksidatif sifat lokasi, tetapi dalam banyak kasus, Cr (III) adalah spesies dominan, meskipun di beberapa daerah di tanah air dapat mengandung sampai 39 μg dari total kromium dari 30 μg yang hadir sebagai Cr (VI) (Krisbiyanyoro, 2008).


©      Senyawa Kromium
Senyawa komponen khrom berwarna. Kebanyakan senyawa khromat yang penting adalah natrium dan kalium, dikromat, dan garam dan ammonium dari campuran aluminum dengan khrom . Dikhromat bersifat sebagai zat oksidator dalam analisis kuantitatif, juga dalam proses pemucatan kulit (Lanjar, 2006).
Senyawa lainnya banyak digunakan di industri; timbal khromat berwarna kuning khrom, merupakan pigmen yang sangat berharga. Senyawa khrom digunakan dalam industri tekstil sebagai mordan atau penguat warna. Dalam industri penerbangan dan lainnya,senyawa khrom berguna untuk melapisi aluminum (Lanjar, 2006).
©   Manfaat dan Kegunaan Kromium
Krom digunakan untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan karat dan membentuk banyak alloy (logam campuran) yang berguna. Kebanyakan digunakan dalam proses pelapisan logam untuk menghasilkan permukaan logam yang keras dan indah dan juga dapat mencegah korosi. Khrom memberikan warna hijau emerald pada kaca (Astuti, dkk, 2005).
Penggunaan kromium yang sangat terkenal adalah penyepuhan kromium (chromiumplating). Efek penting dalam penyepuhan ini adalah dekoratif dan sifat kekerasan. Lapisan kromium itu indah, tidak kusam, dan memberi efek tahan panas, tahan pakai, tahan korosi serta bersifat keras. Penyepuhan kromium banyak digunakan pada peralatan sehari-hari, dan kendaraan bermotor.  Elektrolit dibuat dengan melarutkan kromium (VI) oksida,  CrO3,  dalam  air  sehingga  membentuk  asam  dikromat  H2Cr2O7.  Dalam penyepuhan ini sebagai katalis ditambah sedikit H2SO4 untuk mempercepat pelapisan kromium. Proses penyepuhan ini berbeda dari penyepuhan lainnya. Sebagai anode tidak digunakan logam kromium karena logam ini mudah melarut dalam larutan asam. Anode yang digunakan adalah aliasi Pb–Sn, yang tidak melarut dalam asam kromat.  Reaksi pada elektrode dapat ditulis sebagai berikut (Astuti, dkk, 2005) :
Anode : 2 H2O (l) ® O2 (g) + 4H+ (aq) + 4e-
Katode : Cr2O72- (aq) + 14H+ (aq) + 12e-  ® 2Cr(s) + 7H2O (l)
Ke dalam wadah elektrolisis selalu ditambahkan CrO3 untuk menjaga konsentrasikromium agar selalu tetap. Kegunaan kromium yang lain yaitu dalam pembuatanstainless steel. Senyawa kromium mempunyai warna yang sangat menarik, oleh karena itu digunakan sebagai pigmen seperti kuning krom (timbal (II) kromat) dan hijau krom (kromium (III) oksida). Suatu senyawa kromium yang indah sekali adalah jamrud(emerald). Batu permata ini terbentuk jika sebagian ion aluminium dalam mineral beril,Be3Al2(Si6O18) diganti oleh ion kromium (III) (Astuti, dkk, 2005).
Kromium merupakan logam tahan korosi (tahan karat) dan dapat dipoles menjadi mengkilat. Dengan sifat ini, kromium (krom) banyak digunakan sebagai pelapis pada ornamen-ornamen bangunan, komponen kendaraan, seperti knalpot pada sepeda motor, maupun sebagai pelapis perhiasan seperti emas, emas yang dilapisi oleh kromium ini lebih dikenal dengan sebutan emas putih. Senyawa kromium dalam bentuk kromat dan dikromat sangat banyak digunakan oleh industri tekstil, fotografi, pembuatan tinta dan industri zat warna (Astuti, dkk, 2005).
Perpaduan Kromium dengan besi dan nikel menghasilkan baja tahan karat.
Kromium (IV) oksida digunakan untuk pembuatan pita magnetik digunakan dalam performa tinggi dan standar kaset audio.
Asam kromat adalah agen oksidator yang kuat dan merupakan senyawa yang bermanfaat untuk membersihkan gelas laboratorium dari setiap senyawa organik. Hal ini disiapkan dengan melarutkan kalium dikromat dalam asam sulfat pekat, yang kemudian digunakan untuk mencuci aparat. Natrium dikromat kadang-kadang digunakan karena lebih tinggi kelarutan (5 g/100 ml vs 20 g/100 ml masing-masing). Kalium dikromat merupakan zat kimia reagen, digunakan dalam membersihkan gelas laboratorium dan sebagai agen titrating (Lanjar, 2006).
Kromium termasuk logam mineral yang jumlahnya sedikit, baik dalam makanan maupun pada tubuh manusia, tetapi sangat penting bagi kesehatan. Nutrien ini tergolong essential trace mineral (mineral penting yang dibutuhkan dalam jumlah kecil) karena tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipasok dari makanan sehari-hari. Karena sedikitnya kebutuhan kromium ini hingga sering tak diperhitungkan padahal zat ini sangat diperlukan bagi hampir semua jaringan tubuh manusia, termasuk kulit, otak, otot, limpa, ginjal dan testis. Kromium berasal dari bebatuan dalam perut bumi dan hanya tumbuh-tumbuhan yang bisa langsung menyerap mineral dari tanah. Kandungan kromium yang ada dalam tanah di mana tumbuhan tumbuh menentukan kadar zat itu. Cukup konsumsi “makanan hidup” seperti buah-buahan segar dan sayuran dan makanan alami lainnya setiap hari dapat menghindari resiko kekurangan kromium. Tetapi karena banyaknya penggunaan zat-zat kimia dan pengoalahan yang berlebihan menyebabkan jumlah kromium berkurang, sehingga kebutuhan ini perlu dibantu dengan mengkonsumsi suplemennya (Bramandita, 2009).
Selain itu kromium juga berfungsi (Bramandita, 2009):
- Menjaga keseimbangan kadar gula darah dan meningkatkan efisiensi kerja insulin.
- Chromium sering disebut sebagai “Glucose Tolerance Factor” (faktor pengendali kadar gula darah) dibutuhkan pada proses pengolahan glukosa menjadi energi.
- Membantu menurunkan berat badan dengan cara membakar lemak menjadi energi.
- Menurunkan kolesterol dan trigliserid sehingga dapat menjaga kesehatan jantung.
- Meningkatkan massa otot sehingga dapat membentuk otot yang ideal.
- Membantu sintesa kolesterol, lemak dan protein serta meningkatkan jaringan otot.
Suplementasi membantu Anda untuk membantu metabolisme tubuh. Bagi para penderita diabetes, suplementasi ditujukan untuk membantu metabolisme karbohidrat dan lemak dengan lebih baik. Suplementasi dengan Chromium Picolinate mampu meningkatkan sensitifitas insulin tubuh sehingga membantu mencerna gula atau karbohidrat dengan lebih baik yang mutlak diperlukan bagi penderita diabetes. Selain itu Chromium Picolinate berguna untuk mengurangi rasa lapar dan nafsu makan.
-       Chromium Membantu Sensitifitas Insulin
Salah satu permasalahan utama pada penderita diabetes adalah kurangnya sensitifitas insulin, sehingga insulin tidak bekerja dengan baik. Suplementasi Chromium Picolinate mampu memperbaiki kinerja insulin dalam tubuh sehingga dapat mengontrol gula darah dengan lebih baik.
Kromium berperan untuk mengendalikan metabolisme insulin dalam tubuh, sebagai faktor pengendali kadar gula darah (glucose tolerance factor / GTF). Dengan adanya kromium ini pemanfaatan insulin tubuh lebih efisien dan keseimbangan kadar gula darah terjaga. Kromium juga membantu proses pencernaan protein dan lemak. Penelitian membuktikan bahwa kromium dapat menurunkan kadar trigliserid dan kelebihan total kolesterol darah, sekaligus memperbaiki rasio LDL (kolesterol ‘jahat’) dan HDL (kolesterol ‘baik’). Sejumlah penelitian di Amerika memperlihatkan pemberian suplemen kromium dengan dosis 2 mg per hari dapat menurunkan kadar kolesterol 15 persen. Selain itu juga menunjukkan bahwa kromium dapat memperbaiki kadar kolesterol dalam darah, mengurangi pengapuran (pembentukan plak) dalam pembuluh darah (Bramandita, 2009).
Suplemen kromium umumnya digunakan dalam terapi penyakit yang berkaitan dengan gangguan penyerapan dan metabolisasi gula darah seperti hipoglikemia (tekanan gula darah terlalu rendah) dan diabetes militus. Bagi pengidap resistensi insulin dapat mencegah resiko penyakit diabetes. Lonjakan gula darah yang tak terkendali diketahui dapat mengurangi produksi seretonin (hormon yang mengendalikan emosi, rasa sakit, pola makan) di otak. Kromium dapat mengatasi sakit kepala dan sejumlah gangguan emosi akibat hipoglikemia (Budi, 2004)
Penyerapan kromium oleh tubuh cenderung lamban, tetapi keluarnya dari tubuh malah sebaliknya, sangat mudah. Karena itu resiko kelebihan atau keracunan jarang terjadi.walaupun belum ada angka resmi kecukupan kromium, tetapi kemampuan tubuh menyerap kromium hanya 2 % sehingga sedikitnya diperlukan 100-200 mcg kromium per hari dari makanan. Anak-anak hanya perlu sedikit dari jumlah tersebut. Kebanyakan suplemen dijual dalam bentuk dosis 200 mcg, berupa kapsul, softgel, tablet atau cairan. Dosis tersebut merupakan dosis maksimalyang cukup aman. Dapat digunakan untuk kesehatan umum atau bagian terapi penurunan berat badan, juga terapi hipoglikemia (tekanan gula darah terlalu rendah) (Budi, 2004)
Kromium harus dikonsumsi bersama makanan atau segelas penuh air atau jus buah. Jika dikonsumsi dengan perut kosong dapat mengakibatkan iritasi pada lambung. Kromium lebih mudah diserap dengan suplemen vitamin C atau makanan yang kaya vitamin C. Hindari konsumsi kalsium karbonat atau antacid (obat maag) pada saat yang bersamaan karena dapat menurunkan kualitas penyerapan kromium. Kebanyakan kromium dijual sebagai chromium picolinateatau polynicotinate (Moser dan Thomas, 1963).
Untuk penderita diabetes sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter sebelum memutuskan memakai suplemen kromium, karena dapat mengubah kebutuhan akan insulin dan berbagai obat penyakit diabetes lainnya (Moser dan Thomas, 1963).
©      Efek Kesehatan Kromium
Logam krom (Cr) adalah salah satu jenis polutan logam berat yang bersifat toksik, dalam tubuh logam krom biasanya berada dalam keadaan sebagai ion Cr3+. Krom dapat menyebabkan kanker paru-paru, kerusakan hati (liver) dan ginjal. Jika kontak dengan kulit menyebabkan iritasi dan jika tertelan dapat menyebabkan sakit perut dan muntah. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi kadar pencemar pada perairan biasanya dilakukan melalui kombinasi proses biologi, fisika dan kimia. Pada proses fisika, dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam bak penampung yang telah diisi campuran pasir, kerikil serta ijuk. Hal ini lebih ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan kotoran-kotoran kasar dan penyisihan lumpur. Pada proses kimia, dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan kimia untuk mengendapkan zat pencemar misalnya persenyawaan karbonat (Putra, 2004).
Kromium (III) adalah esensial bagi manusia dan kekurangan dapat menyebabkan kondisi jantung, gangguan dari metabolisme dan diabetes. Tapi terlalu banyak penyerapan kromium (III) dapat menyebabkan efek kesehatan juga, misalnya ruam kulit (Putra, 2004).
Kromium (VI) adalah bahaya bagi kesehatan manusia, terutama bagi orang-orang yang bekerja di industri baja dan tekstil. Orang yang merokok tembakau juga memiliki kesempatan yang lebih tinggi terpapar kromium. Kromium (VI) diketahui menyebabkan berbagai efek kesehatan. sebuah senyawa dalam produk kulit, dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti ruam kulit. Pada saat bernapas ada krom (VI) dapat menyebabkan iritasi dan hidung mimisan. Masalah kesehatan lainnya yang disebabkan oleh kromium (VI) adalah (Putra, 2004):
- Kulit ruam, sakit perut dan bisul
- Masalah pernapasan
- Sistem kekebalan yang lemah
- Ginjal dan kerusakan hati
- Perubahan materi genetik
- Kanker paru-paru
Bahaya kesehatan yang berkaitan dengan kromium bergantung pada keadaan oksidasi. Bentuk logam (krom sebagaimana yang ada dalam produk ini) adalah toksisitas rendah. Bentuk yang hexavalent beracun. Efek samping dari bentuk hexavalent pada kulit mungkin termasuk dermatitis, dan reaksi alergi kulit. Gejala pernafasan termasuk batuk, sesak napas, dan hidung gatal (Putra, 2004).
©      Bahaya Kromium
Sebuah studi dari Dartmouth College menemukan,chromium picolinate bisa merusak materi genetik pada sel-sel hewan hamster. Studi lain yang dilakukan oleh Dr. John Vincent dari University of Alabama di Tuscaloosa menemukan, chromium picolinate akan masuk ke dalam sel-sel secara langsung dan tinggal di sana, dan menimbulkan gangguan. Chroium picolinateberinteraksi dengan vitamin C serta antioksidan lain di dalam sel untuk memproduksi bentuk turunan dari chromium yang bisa menyebabkan mutasi DNA, materi genetik. Kombinasi chromium dan picolinate (khsusnya bentuk turunannya) bisa meproduksi komponen berbahaya. Selain itu, picolinate akhirnya akan pecah dan menimbulkan efek yang merugikan (Rohman, 2007).
Khromium Picolinate merupakan chromium generasi baru yang telah dipatenkan dan lebih mudah diserap oleh tubuh. khromium berperan penting pada metabolisme dan penggunaan karbohidrat, sintesa asam lemak, kolesterol dan protein. Makanan ala modern yang banyak dikonsumsi masyarakat saat ini sangat sedikit kandungan khromiumnya. Kekurangan kromium dapat menyebabkan kelelahan, kegelisahan, diabetes, gangguan metabolisme asam amino dan meningkatkan resiko aterosklerosis (Rohman, 2007).
©      Dampak Lingkungan Kromium
Ada beberapa jenis kromium yang berbeda dalam efek pada organisme. Kromium memasuki udara, air dan tanah di krom (III) dan kromium (VI) bentuk melalui proses-proses alam dan aktivitas manusia. Kegiatan utama manusia yang meningkatkan konsentrasi kromium (III) yang meracuni kulit dan manufaktur tekstil. Kegiatan utama manusia yang meningkatkan kromium (VI) konsentrasi kimia, kulit dan manufaktur tekstil, elektro lukisan dan kromium (VI) aplikasi dalam industri. Aplikasi ini terutama akan meningkatkan konsentrasi kromium dalam air. Melalui kromium pembakaran batubara juga akan berakhir di udara dan melalui pembuangan limbah kromium akan berakhir di tanah (Rohman, 2007).
Sebagian besar kromium di udara pada akhirnya akan menetap dan berakhir di perairan atau tanah. Kromium dalam tanah sangat melekat pada partikel tanah dan sebagai hasilnya tidak akan bergerak menuju tanah. Kromium dalam air akan menyerap pada endapan dan menjadi tak bergerak.Hanya sebagian kecil dari kromium yang berakhir di air pada akhirnya akan larut. Kromium (III) merupakan unsur penting untuk organisme yang dapat mengganggu metabolisme gula dan menyebabkan kondisi hati, ketika dosis harian terlalu rendah. Kromium (VI) adalah terutama racun bagi organisme. Dapat mengubah bahan genetik dan menyebabkan kanker (Rohman, 2007).
Tanaman mengandung sistem yang mengatur kromium-uptake harus cukup rendah tidak menimbulkan bahaya. Tetapi ketika jumlah kromium dalam tanah meningkat, hal ini masih dapat mengarah pada konsentrasi yang lebih tinggi dalam tanaman. Peningkatan keasaman tanah juga dapat mempengaruhi pengambilan kromium oleh tanaman. Tanaman biasanya hanya menyerap kromium (III). Ini mungkin merupakan jenis penting kromium, tetapi ketika konsentrasi melebihi nilai tertentu, efek negatif masih dapat terjadi (Rohman, 2007).
Kromium tidak diketahui terakumulasi dalam tubuh ikan, tetapi konsentrasi tinggi kromium, karena pembuangan produk-produk logam di permukaan air, dapat merusak insang ikan yang berenang di dekat titik pembuangan. Pada hewan, kromium dapat menyebabkan masalah pernapasan, kemampuan yang lebih rendah untuk melawan penyakit, cacat lahir, infertilitas dan pembentukan tumor (Rohman, 2007).
©      Pelapisan Kromium
Pelapisan krom adalah suatu perlakuan akhir menggunakan elektroplating oleh kromium. Pelapisan dengan krom dapat dilakukan pada berbagai jenis logam seperti besi, baja, atau tembaga. Pelapisan krom juga dapat dilakukan pada plastik atau jenis benda lain yang bukan logam, dengan persyaratan bahwa benda tersebut harus dicat dengan cat yang mengandung logam sehingga dapat mengalirkan listrik (Noerono, 1994).
Pelapisan krom menggunakan bahan dasar asam kromat, dan asam sulfat sebagai bahan pemicu arus, dengan perbandingan campuran yang tertentu. Perbandingan yang umum bisa 100:1 sampai 400:1. Jika perbandingannya menyimpang dari ketentuan biasanya akan menghasilkan lapisan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Faktor lain yang sangat berpengaruh pada proses pelapisan krom ini adalah temperatur cairan dan besar arus listrik yang mengalir sewaktu melakukan pelapisan. Temperatur pelapisan bervariasi antara 35 °C sampai 60 °C dengan besar perbandingan besar arus 18 A/dm2 sampai 27 A/dm2.
Elektroda yang digunakan pada pelapisan krom ini adalah timbal (Pb) sebagai anoda (kutub positif) dan benda yang akan dilapis sebagai katoda (kutub negatif). Jarak antara elektroda tersebut antara 9 cm sampai 29 cm. Sumber listrik yang digunakan adalah arus searah antara 10 - 25 Volt, atau bisa juga menggunakan aki mobil
(Noerono, 1994).
Pewarnaan Kulit Kromium (III) garam, terutama tawas krom dan kromium (III) sulfat, digunakan dalam penyamakan dari kulit. kromium (III) menstabilkan kulit secara lintas yang menghubungkan kolagen serat dalam kulit. Kromium kecokelatan kulit dapat mengandung antara 4 dan 5% dari kromium, yang erat terkait pada protein (Noerono, 1994).
©      Peranan Biologis Kromium
Trivalen kromium (Cr (III) atau Cr 3 +) dalam menelusuri pengaruh jumlah gula dan lemak metabolisme pada manusia yang diduga menyebabkan penyakit yang disebut defisiensi krom. Sebaliknya, krom hexavalent (Cr (VI) atau Cr 6 +) sangat beracun dan mutagenik ketika dihirup. Cr (VI) belum ditetapkan sebagai karsinogen ketika dalam larutan, meskipun dapat menyebabkan alergi kontak dermatitis (ACD) (Krisbiyantoro, 2008).
Penggunaan kromium suplemen makanan yang mengandung kontroversial karena efek kompleks digunakan suplemen.suplemen makanan yang populer kromium Picolinate kompleks menghasilkan kerusakan kromosom pada sel-sel hamster. Di Amerika Serikat, diet harian pedoman untuk kromium pengambilan diturunkan 50-200 μg untuk orang dewasa 35 μg (dewasa laki-laki) dan hingga 25 μg (betina dewasa) (Krisbiyantoro, 2008).






Molibdenum (Mo)
©    Karakteristik Molibdenum
Molibdenum adalah logam transisi, sehingga menempatkannya di tengah-tengah tabel periodik, dengan nomor atom 42. Tabel periodik itu sendiri adalah suatu bagan yang menunjukkan bagaimana unsur-unsur kimia yang terkait antara satu dengan yang lain. Molibdenum berwarna putih keperak-perakan, sangat keras (tapi lebih lembut dan bisa ditempa daripada wolfram). Elastisitasnya dan titik lelehnya tinggi. Molibdenum biasanya digunakan untuk menjadi campuran dengan logam lain. Campuran sendiri akan memiliki sifat berbeda dari unsur logam yang pertama, Molibdenum biasanya sering dicampur dengan baja untuk meningkatkan kekuatan, ketangguhan, ketahanan terhadap keausan dan korosi, dan kemampuan untuk mengeraskan baja (Krisbiyantoro, 2008).
©   Sumber Molibdenum
            Molibdenum dapat ditemui di alam bebas. Sebaliknya, walaupun ia masih menjadi bagian dari suatu senyawa. Selain molybdenite, biasanya Molibdenum terjadi sebagai mineral wulfenite (PbMo0 4) dan Powellite (CaMoO4). Dapat ditemukan di kerak bumi yang diperkirakan sekitar 1 hingga 1,5 bagian per juta (Krisbiyantoro, 2008).
©   Reaksi Kimia Molibdenum
-        Reaksi dengan air
     Tidak bereaksi dengan air pada suhu ruangan.
-       Reaksi dengan oksigen
     Tidak bereaksi dengan oksigen pada suhu ruangan/normal. Pada temperature tinggi membentuk Molibdenum (VI) trioxide. Reaksi (Krisbiyantoro, 2008):
               2Mo(s) + 3O2(g) → 2MoO3(S)
-       Reaksi dengan halogen
 Pada temperatur ruangan Mo breaksi dengan fluorine membentuk Molibdenum (VI) fluoride. Reaksi (Krisbiyantoro, 2008):
                                    Mo(S) + 3F2(g) → MoF6(l)
©   Ekstraksi Molibdenum
            Logam Molibdenum murni dapat diperoleh dari Molibdenum trioksida (MoO3) dalam berbagai cara. Molibdenit ini pertama dipanaskan sampai suhu 700 ° C (1292 ° F) dan sulfida yang teroksidasi menjadi oksida (VI) molibdenum melalui udara (Noerono, 1994):
                        2MoS2 + 7O2 → 2MoO3 + 4SO2
            Bijih teroksidasi kemudian dipanaskan sampai 1.100 ° C (2010 ° F) untuk menghaluskan oksida, atau pencucian dengan amonia yang kemudian bereaksi dengan oksida (VI) molibdenum untuk membentuk molybdate yang larut dalam air (Noerono, 1994):
                        MoO3 → NH4OH + 2(NH4) 2(MoO4) + H2O
            Tembaga merupakan pengotor yang kurang larut dalam amonia sehingga digunakan hidrogen sulfida untuk mengendapkannya.

©   Kegunaan Molibdenum
            Molibdenum terutama banyak digunakan di industri, diantaranya adalah (Noerono, 1994):
-          Baja,
-          Pesawat
-          Rudal
-          Filamen di pemanas listrik
-          Pelumas
-          Lapisan pelindung pelat boiler
-          Pigmen
-          Katalis
            Sekitar 75 persen dari Molibdenum yang digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1996 dijadikan campuran untuk baja dan besi. Hampir setengah dari campuran ini digunakan untuk membuat stainless dan baja tahan panas. Hasilnya dapat digunakan dalam pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, dan rudal bagian. Penggunaan penting lainnya adalah campuran Molibdenum dalam produksi alat-alat khusus, seperti: busi, shaft baling-baling, senapan barel, peralatan listrik digunakan pada temperatur tinggi, dan boiler pelat (Rohman, 2007).

            Penggunaan penting lainnya adalah sebagai katalis Molibdenum. Katalis adalah zat yang digunakan untuk mempercepat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Katalis tidak mengalami perubahan wujud selama reaksi. Katalis Molibdenum digunakan dalam berbagai operasi kimia, dalam industri minyak bumi, dan dalam produksi polimer dan plastic (Rohman, 2007).
            Molibdenum digunakan pada alloy tertentu yang berbasis nikel, seperti Hastelloy ®, yang mana tahan panas dan tahan korosi bahan kimia. Molibdenum mengoksidasi pada suhu yang meningkat. Penerapan terbaru molibdenum adalah sebagai elektroda untuk tungku pembakaran kaca yang dipanaskan dengan listrik. Molibdenum juga digunakan dalam nuklir, dan dalam pembuatan  suku cadang rudal dan pesawat terbang. Molibdenum merupakan katalis penting dalam pemurnian minyak bumi. Juga diterapkan sebagai bahan filamen dalam dunia elektronik. Molibdenum adalah unsur esensial dalam jumlah sedikit yang dibutuhkan oleh tanaman; beberapa daerah tandus karena kekurangan unsur ini dalam tanah. Molibdenum sulfida adalah pelumas yang sangat berguna, khususnya pada suhu tinggi di mana oli mudah terurai. Hampir semua baja yang sangat kuat, dengan minimum daya tampung  300.000 psi mengandung molibdenum sejumlah  0.25 hingga 8%. Secara biologis, molibdenum sebagai unsur penting dalam pengikatan nitrogen dan proses metabolisme lainnya (Rohman, 2007).

©      Molibdenum (Mo) Menjadi Komponen Enzim Nitrat Reduktase
Unsur ini diserap dalam bentuk MoO4- . Esensi unsur ini: Sebagai aktivator dan penyusun enzim sitrat reduktase yaitu enzim yang bekerja membantu perubahan ion NO3- menjadi NH3 yang siap dipakai untuk pem-bentukan asam amino dan protein untuk pembelahan dan pembesaran sel. Jadi NH3 adalah prekursor untuk selanjutnya membentuk asam amino dan asam amino membentuk protein dan asam nukleat. Mo berperan pada metabolisme hormon tanaman. Kekurangan Mo maka per-tumbuhan terhambat karena kadar NO3 - menumpuk dalam tubuh tanaman (Suparman, 1984).
Mo merupakan komponen esensial bagi enzim nitrogenase dan NR, ketersediaan Mo menstimulasi penyerapan N, dan Mo diakumulasi pada bintil akar pada sisi pengikatan N2.Nitrat reduktase yang mereduksi nitrat menjadi nitrit, aktivitasnya meningkat dengan meningkatnya penyediaan Mo. Penyerapan Mo per unit bahan kering lebih besar bila tanaman tersebut dipupuk nitrat daripada ammonium, sedang bila tanaman dipupuk ammonium maka tanaman tidak memerlukan Mo. Tanaman yang diperlakukan dengan NH4 akan memerlukan Mo setelah mengalami nitrifikasi dan Mo dibutuhkan untuk mereduksi nitrat (Suparman, 1984).
              Reaksi reduksi nitrat pada tumbuhan berlangsung melalui dua tahapan yaitu (Suparman, 1984):
-       Reduksi nitrat membentuk senyawa nitrit.  Reaksi ini berlangsung di dalam plasma dengan bantuan. enzim nitrat reduktase (NR). Enzim ini merupakan enzim molibdoflavoprotein yang mampu mengatur kecepatan pembentukan protein pada tumbuhan yang menggunakan NO3- sebagai sumber nitrogennya.
-       Reduksi nitrit menjadi senyawa ammonium. Reaksi ini terjadi pada kloroplas (pada daun) atau pada proplastida (pada akar) dengan enzim nitrit reduktase sebagai katalisnya.
Reduksi nitrat yang dikatalis oleh enzim nitrat reduktase sangat tergantung dari aktivitas nitrat reduktase tersebut. Aktivitas nitrat reduktase ditentukan oleh konsentrasinya. Kadar NO3- yang tinggi dalam sel dan cahaya juga dapat memacu aktivitas enzim nitrat reduktase. Peranan cahaya terhadap aktivitas enzim nitrat reduktase dapat melalui beberapa cara, antara lain :
-       Cahaya dapat mengaktifkan fotosintesis sehingga dihasilkan ATP untuk menggerakkan NO3- dari vakuola ke plasma.
-       Cahaya mengaktifkan sistem fitokrom yang berperan menaikkan kemampuan ribosom membuat protein (termasuk enzim nitrat reduktase).
-       Cahaya menginaktifkan protein yang bersifat inhibitor bagi enzim nitrat reduktase.
-       Cahaya menaikkan penyediaan karbohidrat dan proses respirasi, dimana dari proses ini dihasilkan NADH yang diperlukan untuk proses reduksi.



©   Molibdenum Dalam Tubuh Manusia
Pada manusia, molybdenum dikenal berfungsi sebagai kofaktor untuk tiga enzim (Suparman, 1984):
-          Sulfit oksidase mengkatalisis transformasi sulfit ke sulfat, reaksi yang diperlukan untuk metabolisme kandungan asam amino (metionin dan sistein).
-          Xanthine oksidase mengkatalisis pemecahan nukleotida (prekursor untuk DNA dan RNA) untuk membentuk asam urat, yang berkontribusi terhadap kapasitas antioksidan plasma darah.
-          Oksidase Aldehyde dan xanthine oksidase mengkatalisis reaksi hidroksilasi yang melibatkan beberapa molekul yang berbeda dengan struktur kimia yang sama. oksidase Xanthine dan oksidase aldehida juga berperan dalam metabolisme obat dan racun.
              
©  Kekurangan Molibdenum
            MO Diserap akar dalam bentuk ion Molibdat (MoO4). Peranannya penting dalam pengikatan Nitrogen yang bermanfaat pada tanaman Leguminose yaitu sebagai aktivator enzym nitrit reduktase pada proses fiksasi nitrogen yang merupakan enzim yang bekerja membantu perubahan ion NO3- menjadi NH3 yang siap dipakai untuk pembentukan asam amino dan protein untuk pembelahan dan pembesaran sel, diperlukan juga dalam sintesis asam askorbat. Sehingga pada kondisi kekurangan Mo akan berdampak pada terganggunya fiksasi nitrogen. Nitrogen (N) diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian vegetative tanaman, seperti daun, batang dan akar ; pembentukan hijau daun ; meningkatkan perkembangbiakan mikroorganisme di dalam tanah. Kekurangan N menyebabkan sintesa klorofil terganggu, terjadi klorosis pada daun dewasa, bila kekurangan akut pada daun muda juga terjadi klorosis (Krisbiyantoro, 2008).
Gejala yang timbul karena kekurangan Mo hampir menyerupai kekurangan N. Kekurangan Mo dapat menghambat pertumbuhan tanaman, daun menjadi pucat dan mati dan pembentukan bunga terganggu, apabila bunga tetap terbentuk, maka akan gugur sebelum menjadi buah. Gejala defisiensi Mo dimulai dari daun tengah dan daun bawah. Daun menjadi kering kelayuan, tepi daun menggulung dan daun umumnya sempit. (Krisbiyantoro, 2008).
Wolfram (W)
©    Karakteristik Wolfram
Wolfram adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang W dan nomor atom 74. Nama unsur ini diambil dari bahasa Latin wolframium dan sering juga disebut tungsten. Logam transisi yang sangat keras dan berwarna kelabu sampai putih ini ditemukan pada mineral seperti wolframit dan schelit. Wolfram memiliki titik lebur yang lebih tinggi dibandingkan zat non-aloy lainnya. Bentuk murni Wolfram digunakan terutama pada perangkat elektronik. Senyawa dan aloy-nya digunakan secara luas untuk banyak hal, yang paling dikenal adalah sebagai filamen bola lampu, tabung sinar-x, dan superaloy (Krisbiyantoro, 2008).
Tungsten murni adalah logam yang berwarna putih timah hingga abu-abu baja. Tungsten yang sangat murni dapat dipotong dengan gergaji besi dan bisa dibentuk dengan mudah. Dalam keadaan tidak murni, tungsten rapuh dan membutuhkan kerja keras untuk bisa membentuknya. Tungsten memiliki titik cair tertinggi darisemua unsur logam, dan pada suhu 1650oC memiliki kekuatan regang tertinggi. Tungsten teroksidasi di udara dan harus dilindungi bila disimpan pada suhu yang meningkat. Pemuaian akibat panasnya hampir sama dengan kaca borosilikat, yang membuatnya berguna untuk segel dari kaca ke logam (Krisbiyantoro, 2008).
Tungsten adalah baja abu-abu logam yang sering rapuh dan sulit untuk bekerja , tetapi jika murni, dapat bekerja dengan mudah. Hal ini bekerja dengan penempaan , menggambar , ekstrusi atau sintering. Dari semua logam dalam bentuk murni, tungsten memiliki tertinggi titik lebur (3422 ° C , 6192 ° F ), terendah uap tekanan (pada suhu di atas 1.650 ° C, 3000 ° F ) dan tertinggi kekuatan tarik. Tungsten memiliki terendah koefisien ekspansi termal dari setiap logam murni. Ekspansi termal rendah dan titik lebur tinggi dan kekuatan dari tungsten adalah karena kuat ikatan kovalen terbentuk antara atom tungsten oleh 5d elektron. Pemaduan jumlah kecil tungsten dengan baja sangat meningkatkan ketangguhan (Setiawan, 2000).
Bilangan oksidasi dari tungsten adalah +6, tetapi pameran semua negara oksidasi dari -2 ke +6. Tungsten biasanya menggabungkan dengan oksigen untuk membentuk kuning oksida tungstic , WO3, yang larut dalam air larutan alkali untuk membentuk ion tungstat. W2C tahan terhadap serangan kimia, meskipun bereaksi kuat dengan klorin untuk membentuk hexachloride tungsten (KMK 6) (Setiawan, 2000).
 Dalam larutan air, tungstat memberikan asam heteropoly dan polyoxometalate anion di bawah dan asam kondisi netral. Ion metatungstate ada sebagai sekelompok simetris dua belas tungsten- oksigen oktahedra dikenal sebagai Keggin anion. Banyak anion polyoxometalate lain ada sebagai spesies metastabil. Dimasukkannya dari atom yang berbeda seperti fosfor di tempat dua pusat hidrogen dalam metatungstate menghasilkan berbagai asam heteropoly, seperti asam fosfotungstat H3PW12O40. Tungsten trioksida dapat membentuk interkalasi senyawa dengan logam alkali. Ini dikenal sebagai perunggu; contoh adalah natrium perunggu tungsten (Setiawan, 2000).
©    Kegunaan Wolfram
Tungsten dan alloynya, digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan filamen lampu pijar, tabung elektron dan televisi,  dalam proses penguapan logam, untuk titik kontak listrik pada distributor mobil, target sinar X, unsur windings (proses pencairan logam dalam tungku listrik) dan pemanas pada tungku listrik, dan dalam peralatan untuk suhu tinggi dan pesawat luar angkasa. Alloy yang digunakan untuk peralatan berkecepatan tinggi seperti Hastelloy ®, Stellite ® mengandung tungsten. Tungsten karbida sangat penting digunakan dalam proses penempaan logam, penambangan logam dan industri minyak bumi. Kalsium dan magnesium tungstate sangat luas digunakan dalam pencahayaan fluoresen; dan garam tungsten lainnya digunakan dalam industri pewarna dan kimia. Tungsten disulfida adalah pelumas yang kering, dan mampu stabil pada suhu setinggi 500oC. Perunggu tungsten dan senyawa lainnya digunakan dalam industri cat (Rohman, 2007).

©      Peranan Biologis Wolfram
Tungsten, di nomor atom 74, merupakan unsur terberat diketahui secara biologis fungsional, dengan yang sedang yodium terberat berikutnya (Z = 53). Meskipun tidak dalam eukariota , tungsten digunakan oleh beberapa bakteri. Sebagai contoh, enzim disebut oxidoreductases menggunakan tungsten yang sama seperti molibdenum dengan menggunakannya dalam-tungsten pterin kompleks dengan molybdopterin (molybdopterin, meskipun namanya, tidak mengandung molibdenum, tetapi kompleks dapat dengan baik molibdenum atau tungsten digunakan oleh organisme hidup). Namun, tungsten oxidoreductases juga dapat mengkatalisis oksidasi. Enzim tungsten membutuhkan pertama yang ditemukan juga membutuhkan selenium, dan dalam hal ini-selenium pasangan tungsten dapat berfungsi analogi ke-molybdenum sulfur pasangan dari beberapa molibdenum kofaktor yang membutuhkan enzim. Salah satu enzim dalam keluarga oksidoreduktase yang kadang-kadang menggunakan tungsten (bakteri formate dehidrogenase H) dikenal untuk menggunakan versi selenium-molibdenum dari molybdopterin. Meskipun mengandung xantin dehidrogenase-tungsten dari bakteri telah ditemukan mengandung tungsten-molydopterin dan juga-protein terikat selenium non, sebuah selenium molybdopterin kompleks-tungsten belum pasti dijelaskan (Rohman, 2007).
©      Efek Pada Biokimia
Dalam tanah, logam tungsten mengoksidasi ke tungstat anion. Hal ini dapat selektif atau non-selektif diimpor oleh beberapa organisme prokariotik dan mungkin pengganti molibdat dalam beberapa enzim. Pengaruhnya pada tindakan enzim ini dalam beberapa hambat kasus dan orang lain yang positif. Diperkirakan bahwa mengandung-enzim tungstat di eukariota akan lembam tanah kimia menentukan bagaimana berpolimerisasi tungsten; basa tanah menyebabkan tungstates monomer; asam menyebabkan polimer. tungstates tanah (Setiawan, 2000).
Natrium tungstat dan memimpin telah dipelajari untuk efek mereka pada cacing tanah. Lead ditemukan akan mematikan pada tingkat rendah dan tungstat natrium jauh kurang toksik, tetapi tungstat sepenuhnya menghambat mereka kemampuan reproduksi. Tungsten telah dipelajari sebagai antagonis tembaga biologis metabolisme, dalam peran mirip dengan aksi molibdenum. Telah ditemukan bahwa tetrathiotungstates dapat digunakan sebagai bahan kimia khelasi tembaga biologis, mirip dengan tetrathiomolybdates (Setiawan, 2000).
©      Tungsten Memecah Ikatan Yang Kuat
Suatu ikatan aromatik karbon-karbon yang kuat dapat dipecah dengan mudah oleh komplek tungsten yang dimasukkan dalam metal antara dua atom karbon, menurut laporan dari ahli kimawi pada Columbia University (Nature 2010, 463, 523). Mekanisme dari pemecahan ikatan yang tidak biasa ini, yang diteliti pada quinoxaline dibawah kondisi yang ringan, dapat diperluas pada sistem lainnya, kata penulis laporan ini, dengan membuka suatu jalan baru bagi pengfungsionalisasian molekul aromatik (Setiawan, 2000).
Aaron Sattler dan Gerard Parkin menemukan bahwa kemampuan pemecahan dari komplek tungsten ini saat mencari suatu persenyawaan yang dapat memecahkan ikatan aromatik C–N. Mereka telah bekerja dengan kompleks molybdenum namun memutuskan untuk mengubahnya dengan tungsten, yang mana merupakan metal yang lebih agresif. Sattler dan Parkin terkejut untuk menemukan bahwa pada keberadaan N-heterocyclic molekul quinoxaline, komplek  tungsten memecah ikatan aromatik C–C yang dikaitkan pada ikatan aromatik C–N, meskipun ikatan C–N secara tipikal lebih reaktif (Setiawan, 2000).
Reaksi pemecahan ikatan karbon-karbon tidaklah umum dan secara tipikal hanya diteliti saat ikatan C–C dipegang pada jarak yang dekat pada  pusat metal, atau pada saat pemecahan ini dibarengi dengan pelepasan tegangan energi atau formasi suatu sistem aromatik. Aspek yang paling menjanjikan dari studi ini adalah bahwa tipe pemecahan ini dapat diperluas pada persenyawaan transisi metal dan substrat lainnya, dan pada akhirnya nanti mengarahkan pada suatu cara baru pengfungsionalisasian molekul organik. Para peneliti telah meneliti rekatifitas komplek tungsten dengan beberapa persenyawaan aromatik lain tetapi belum meneliti pemecahan ikatan  C–C yang sama (Setiawan, 2000).

DAFTAR GAMBAR

Gambar Struktur Kromium





Gambar Struktur Molibdenum





Gambar Struktur Wolfram






DAFTAR PUSTAKA

Astuti, W.D ; Sutardi, T ; Evvyerine, D dan Toharmat, T., 2005, “ Penggunaan Kromium Organik dari Beberapa Jenis Fungi Terhadap Aktivitas Fermentasi Rumen Secara in Vitro”, Penelitian Bioteknologi LIPI, Bogor.
Bramandita, A., 2009, “Pengendapan Kromium Heksavalen dengan Serbuk Besi”, Skripsi S-1 FMIPA, IPB, Bogor.
Budi, S.R., 2004, “Sintesis I-Methyl-1,4,8,11-Tertaazacyclotetradecane”, Jurnal Alchemy Vol 3, No 1, Maret, Universitas Sebelas Maret.
Krisbiyantoro, A., 2008, “Panduan Kimia Praktis”, Pustaka Widyatama Yogyakarta.
Lanjar, S., 2006, “Sintesis dan Karakterisasi Kompleks Kromium (III) dengan Benzokain”, Jurnal UNS.
Moser, F.H dan Thomas, A.L., 1963, “Phthalocyanine Compounds”, Reinhold Publishing Corp, New York.
Noerono, S., 1994, “Buku Pelajaran Kimia Unsur”, UGM Press, Jogjakarta.
Putra, D.L. Effendy., 2004, “Kimia Anorganik II”, JICA FMIPA UNM, Malang.
Rohman, Abdul., 2007, “Kimia Analisis”, Pustaka Pelajar, Jogjakarta.
Setiawan, D., 2000, “Sintesis dan Karakterisasi Wolfram – Ftalosianin Untuk Bahan Sasaran Radioisotop Wolfram – 188 (188W) Aktivitas Jenis Tinggi”, Pusat Penelitian dan Pengambangan Teknik Nuklir, BATAN, Bandung.
Suparman , I., 1984, “Sintesa Mo-Flatosianin untuk bahan sasaran dalam pembuatan 99Mo”, Skripsi S-l jurusan kimia ITB.

Tidak ada komentar: